GEMBLONG.ID, Khutbah Jumat Menyambut Ramadhan – Menjelang masuknya bulan Ramadhan, perhatian banyak orang sering kali langsung tertuju pada persiapan teknis ibadah di bulan puasa. Padahal, sebelum Ramadhan hadir sebagai bulan penuh ampunan dan keberkahan, ada satu bulan penting yang seharusnya tidak dilewati begitu saja, yakni bulan Sya’ban. Bulan ini bukan sekadar pengantar, melainkan ruang refleksi yang menentukan kualitas Ramadhan seseorang.
Dalam tradisi Islam, bulan Sya’ban memiliki kedudukan yang istimewa. Ia berada di antara dua bulan besar, Rajab dan Ramadhan, namun justru sering dilalaikan. Rasulullah saw. bahkan menyebut Sya’ban sebagai bulan yang banyak diabaikan manusia, padahal di dalamnya terdapat berbagai keutamaan yang berkaitan langsung dengan persiapan ruhani menjelang Ramadhan.
Jika Ramadhan diibaratkan sebagai musim panen, maka bulan Sya’ban adalah masa pengolahan tanah. Pada fase inilah seorang Muslim seharusnya mulai membersihkan hati, memperbaiki niat, serta menata ulang hubungan dengan Allah SWT. Tanpa persiapan sejak Sya’ban, Ramadhan berisiko dijalani secara tergesa dan kurang bermakna.
Oleh sebab itu, pembahasan tentang bulan Sya’ban dan persiapan menyambut Ramadhan menjadi sangat relevan. Bulan ini mengajarkan bahwa ibadah besar tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan melalui proses kesiapan iman, fisik, dan mental yang dibangun secara bertahap.
Saat ini kita telah berada di penghujung bulan Sya’ban, bulan yang penuh berkah dan kebaikan. Bulan ini menjadi pintu masuk menuju bulan suci Ramadhan, sehingga sudah sepatutnya kita menyambutnya dengan persiapan yang matang. Persiapan tersebut dimulai sejak sekarang agar Ramadhan dapat dijalani dengan penuh makna dan keberkahan.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا، فَصَّلَ وَبَيَّنَ وَقَرَّرَ صِرَاطًا مُسْتَقِيْمًا وَمَنْهَجًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ خَيْرِ الْأَنَامِ وَسَلَّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ، فَيَاعِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، ﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُۚ وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا﴾ صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ
Ma’asyiral Muslimin wa Zumratal Mu’minin rahimakumullah, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw., beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajaran beliau. Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, karena takwa merupakan sebaik-baik bekal di dunia maupun akhirat.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, bulan Sya’ban adalah momentum terbaik untuk mempersiapkan diri menyambut Ramadhan. Persiapan tersebut mencakup keimanan, kesehatan, dan perbekalan. Keimanan menjadi aspek paling utama, sebab perintah puasa ditujukan kepada orang-orang beriman, sebagaimana firman Allah SWT:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa (QS. Al-Baqarah [2]: 183).
Kesehatan juga perlu dijaga, karena puasa adalah ibadah jasmani sekaligus ruhani. Dalam fikih, orang sakit diberi keringanan untuk tidak berpuasa, namun tetap berkewajiban mengqadha. Ini menunjukkan bahwa menjaga kesehatan sejak Sya’ban adalah bagian dari kesiapan ibadah. Adapun perbekalan hidup, mempersiapkannya lebih awal akan membantu agar fokus ibadah Ramadhan tidak terganggu oleh urusan dunia.
Di antara semua persiapan tersebut, penguatan iman dan tauhid tetap yang paling utama. Rasulullah saw. mencontohkan beberapa amalan penting di bulan Sya’ban, di antaranya memperbanyak taubat dan istighfar. Dalam sebuah hadits disebutkan:
مَنْ لَزِمَ الْاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Selain itu, Rasulullah juga memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban, sebagaimana sabdanya:
شَعْبَانَ لِتَعْظِيْمِ رَمَضَانَ
Puasa Sya’ban dilakukan untuk mengagungkan Ramadhan, terlebih karena pada bulan ini amal manusia diangkat kepada Allah.
Amalan lain yang dianjurkan adalah memperbanyak shalawat, dzikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, serta mengingat kematian. Semua ini bertujuan agar hati semakin dekat kepada Allah SWT dan usia kita dipertemukan dengan Ramadhan dalam keadaan siap dan penuh keimanan.
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ